Halaman 1
Kenapa Peran Istri Sering Dianggap Biasa?
# Kenapa Peran Istri Sering Dianggap Biasa? Pernahkah Anda berdiri di tengah hiruk-pikuk rumah, memandangi tumpukan cucian, piring kotor, atau mainan yang berserakan, lalu tiba-tiba merasakan letih yang bukan hanya fisik, melainkan juga mental? Seolah ada suara kecil di kepala yang berbisik, "Aku sudah berusaha sekuat tenaga, tapi kok rasanya *gini-gini aja*?" Anda bukan satu-satunya, sungguh. Jutaan istri di luar sana, mungkin juga Anda, kerap diliputi perasaan serupa. Sebuah perasaan yang menusuk, bahwa segala upaya yang sudah dicurahkan, segala *effort* yang tak terhitung, seolah lenyap begitu saja, tidak terlihat, bahkan mungkin dianggap sepele. Di fase hidup antara usia 23 hingga 40 tahun ini, peran kita sebagai istri memang kompleks. Kita adalah manajer rumah tangga, penyeimbang emosi, *chef* pribadi, perawat saat anak sakit, dan terkadang, *psikolog* dadakan bagi suami. Kita menjalankan banyak peran, seringkali bersamaan, dan anehnya, justru di sinilah letak ironinya. Semakin banyak yang kita lakukan, semakin *biasa* pula peran itu terasa. Seperti udara yang selalu ada, penting, tapi seringkali baru disadari kehadirannya saat ia tiada. ### Ketika Usaha Terasa Sia-Sia "Aku Udah Usaha, Tapi Kok Gini-Gini Aja" Mari kita jujur pada diri sendiri sejenak. Berapa banyak dari kita yang setiap malam merebahkan diri dengan pikiran berkelebat, menghitung apa saja yang sudah dikerjakan hari ini? Dari menyiapkan sarapan, mengurus anak sekolah, beberes rumah, mungkin juga bekerja di kantor, sampai menyiapkan makan malam dan memastikan semua anggota keluarga tidur pulas. Lalu, muncul pertanyaan yang membayangi: *Apa hasilnya?* Perasaan "kok gini-gini aja" ini bukan tanpa sebab. Ada semacam jurang pemisah antara *ekspektasi* dan
Halaman 2
*realitas* dalam kehidupan rumah tangga modern. Kita seringkali melihat di media sosial, atau dari cerita teman, tentang kejutan romantis, hadiah mewah, atau pengakuan publik yang membanggakan. Bandingkan itu dengan realitas keseharian kita: keberhasilan terbesar mungkin adalah anak yang mau mandi tanpa drama, atau suami yang pulang kerja dengan senyum tulus setelah seharian melelahkan. Hal-hal ini memang manis, tapi seringkali terasa kurang "spektakuler" dibandingkan narasi yang ada di luar sana. Beban mental yang kita pikul sebagai istri juga tak kasat mata. Bukan hanya sekadar mencuci piring, tapi juga mengingat kapan sabun cuci piring habis. Bukan hanya menyiapkan bekal anak, tapi juga memikirkan nutrisinya, apakah dia akan suka, dan apakah wadahnya sudah bersih. Ini adalah *invisible workload*, pekerjaan tak terlihat yang menguras energi, tapi jarang sekali diakui, apalagi diapresiasi secara eksplisit. Suami mungkin melihat rumah rapi, tapi ia tidak melihat perjuangan di baliknya untuk menyingkirkan mainan, membersihkan noda tumpahan, atau melipat pakaian. Anak-anak menikmati masakan lezat, tapi mereka tak tahu berapa banyak waktu dan pikiran yang Anda curahkan untuk menyusun menu seimbang. Seringkali, karena kita menjalankan peran-peran ini setiap hari, secara konsisten, maka ia menjadi sebuah "standar", sebuah "default". Keberadaan rumah yang bersih, makanan yang selalu tersedia, atau anak-anak yang terawat, bukan lagi menjadi *pencapaian*, melainkan *eksistensi* yang wajar. Ibarat pohon yang setiap hari disiram dan dipupuk. Kita tidak merayakan setiap tetes air yang diberikan, atau setiap butir pupuk yang ditebarkan. Kita hanya melihat pohon itu tumbuh. Dan kadang, kita lupa, bahwa pertumbuhan itu adalah hasil dari setiap tetes dan setiap butir yang diberikan
Halaman 3
dengan *tekun*. ### Hal Kecil yang Sering Dianggap Sepele, Tapi Sebenarnya Adalah Emas Nah, justru di sinilah letak kunci dari bab ini. Jika perasaan "gini-gini aja" itu muncul karena *ekspektasi* kita terlalu tinggi terhadap pengakuan besar, atau karena kita terlalu terpaku pada hasil yang *terlihat*, mungkin saatnya kita menengok ke dalam. Melihat kembali pada hal-hal kecil, remeh-temeh, yang tanpa sadar kita lakukan setiap hari. Inilah "amalan" sejati yang sering diremehkan. Apa saja contohnya? Mungkin itu adalah senyuman tulus yang Anda berikan pada suami di pagi hari, meski semalam ada perdebatan kecil. Atau mungkin itu adalah sentuhan lembut di kepala anak saat ia sedang asyik bermain, sebuah gestur yang mengatakan, "Ibu sayang kamu." Itu bisa juga berupa secangkir teh hangat yang Anda siapkan untuk suami saat ia baru pulang kerja, tanpa ia minta. Bisa jadi sebuah doa lirih yang terucap dari bibir Anda saat menatap wajah tidur anak-anak, memohon kebaikan untuk mereka. Atau, kemampuan Anda untuk mendengarkan keluh kesah suami tanpa menghakimi, hanya dengan hadir dan memberi ruang. Bahkan tindakan *seperti* merapikan sepatu suami yang berantakan, memastikan kotak makan anak sudah siap, atau menyetel pengingat untuk jadwal imunisasi, adalah mutiara-mutiara kecil. Mereka bukan tindakan heroik yang memenangkan penghargaan, bukan pula gestur romantis yang diunggah ke media sosial. Mereka adalah benang-benang halus yang merajut kain kebahagiaan sebuah keluarga. Mereka adalah *fondasi* yang tak terlihat, tapi esensial. Kita seringkali terlalu fokus pada gunung-gunung besar di kejauhan, sampai lupa bahwa perjalanan itu justru diisi oleh kerikil-kerikil kecil di bawah kaki kita. Dan kerikil-kerikil inilah yang membentuk jalan. Tanpa mereka, kita tak bisa melangkah. Kita