Halaman 1
Bab 1: Awal Mula Misi "Kerugian" yang Aneh
# Bab 1: Awal Mula Misi "Kerugian" yang Aneh Di sebuah gang sempit, di antara deretan rumah petak yang berdempetan erat, hiduplah seorang remaja bernama Riyan. Usianya baru genap tujuh belas tahun, segarnya aroma ijazah SMA masih melekat di udara, namun bukan bau kebanggaan yang menguar dari dirinya, melainkan aroma perjuangan sehari-hari yang sudah terbiasa ia hirup. ### Kehidupan Biasa di Balik Tirai Kesederhanaan: Kisah Seorang Riyan dan Mimpi yang Terpendam Riyan bukan berasal dari keluarga yang bergelimang harta. Jauh dari itu, ia adalah potret nyata dari jutaan anak muda di luar sana yang tumbuh di tengah kesederhanaan. Hidupnya adalah rutinitas: membantu ibu menjemur cucian, menata dagangan di warung kecil ayahnya, dan sesekali mencoba peruntungan mencari pekerjaan serabutan yang tak kunjung datang. Mimpi? Tentu saja ia punya. Namun, mimpi-mimpi itu seringkali terasa seperti bisikan samar di tengah riuhnya tuntutan realita. Bayangkan saja, di usia di mana teman-temannya sibuk memikirkan kuliah di kampus impian atau merencanakan liburan pasca kelulusan, Riyan justru bergulat dengan pertanyaan yang lebih mendasar: *apa yang bisa kulakukan untuk membantu keluarga?* Beban itu tak pernah ia suarakan, namun sorot matanya yang kadang menerawang jauh ke langit sore, atau helaan napasnya yang pelan saat memandang orang tuanya yang semakin menua, adalah cerminan dari hati yang ingin berjuang. Ia ingin mengubah nasib, bukan hanya untuk dirinya, tapi untuk orang-orang yang dicintainya. Ia tahu, dunia tidak berpihak pada mereka yang hanya bermimpi tanpa bergerak. Di tengah rutinitas yang monoton itu, ada satu nama yang selalu berhasil menyelinap masuk dan membawa tawa: Rama. Sahabat karibnya sejak SD, yang kepolosannya kadang
Halaman 2
kelewat batas, namun kesetiaannya tak pernah diragukan. Rama mungkin bukan yang terpintar di kelas, bahkan seringkali jadi bahan ejekan karena kebodohannya yang legendaris, tapi baginya, Rama adalah jangkar yang membuatnya tetap membumi, dan kadang, alasan utama untuk tertawa lepas di tengah segala kepenatan. Mereka berdua sering menghabiskan sore di teras rumah Riyan, berbagi cerita konyol, atau sekadar menertawakan hal-hal kecil yang hanya mereka berdua pahami. Dunia terasa lebih ringan setiap kali Rama ada di sisinya. ### Bisikan Aneh dari Sistem 'Kerugian': Sebuah Tawaran Tak Masuk Akal yang Mengubah Segalanya Suatu sore yang terik, saat Riyan sedang merenung sambil menatap kosong layar ponsel bututnya – yang ia harapkan bisa memberinya sedikit hiburan dari dunia maya, atau setidaknya lowongan pekerjaan – sesuatu yang aneh terjadi. Layar ponselnya tiba-tiba berkedip, menampilkan antarmuka asing yang belum pernah ia lihat. Bukan notifikasi aplikasi, bukan pesan dari operator, melainkan sebuah tampilan *pop-up* dengan tulisan besar dan mencolok: ***"Selamat datang, Pengguna Terpilih. Anda telah diaktivasi dalam Sistem Kerugian."*** Riyan mengedip-ngedip, mengira itu hanya *spam* atau semacam virus konyol. Namun, saat ia mencoba menutupnya, *pop-up* itu justru semakin jelas, memenuhi seluruh layar. Sebuah suara, entah dari mana asalnya, terdengar di benaknya, jernih dan robotik, namun entah mengapa terasa begitu nyata. "Sistem Kerugian adalah sebuah proyek eksperimen unik yang bertujuan menguji batas-batas keberuntungan manusia. Misi Anda: **mencapai kerugian finansial yang signifikan dalam periode waktu yang telah ditentukan.**" Riyan terdiam, bingung setengah mati. Kerugian? Siapa di dunia ini yang ingin rugi? Otaknya berusaha memproses informasi yang sama
Halaman 3
sekali tidak masuk akal ini. Ia yang setiap hari memikirkan bagaimana caranya agar *tidak* rugi, atau bahkan bisa untung sedikit, kini dihadapkan pada sebuah sistem yang memintanya untuk *rugi*. Ini gila! Benar-benar di luar nalar. Suara itu melanjutkan, menjelaskan mekanismenya: "Putaran pertama akan berlangsung minimal tiga bulan. Setiap putaran yang berhasil diselesaikan dengan kerugian yang cukup, waktu putaran berikutnya akan semakin panjang, dan modal awal yang disediakan sistem akan semakin besar." Mata Riyan membelalak. Modal? Jadi, sistem ini akan memberinya modal untuk *rugi*? Ini bukan lagi gila, ini adalah absurditas tingkat tinggi yang membuat akal sehatnya berteriak protes. Tapi, di sisi lain, ada percikan kecil rasa penasaran yang tak bisa ia padamkan. Ia punya modal, ia diminta untuk rugi… Kalaupun gagal, toh itu bukan uangnya. Jika berhasil, ya, ia akan rugi, tapi setidaknya ada "permainan" yang bisa ia ikuti di tengah kehidupannya yang datar. Ini adalah tawaran yang tak masuk akal, namun entah kenapa, Riyan merasa tak punya apa-apa lagi untuk dirugikan selain akal sehatnya sendiri. ### Langkah Pertama Menuju Takdir yang Belum Terungkap: Kelahiran aFz Corporation dan Visi Game Online "Untuk memulai, pilih nama untuk usaha Anda," perintah suara sistem. Riyan mengerutkan kening. Nama usaha? Ia melirik Rama yang sedang asyik bermain *game* sederhana di ponselnya, mengeluarkan suara-suara aneh layaknya komentator olahraga. Sebuah ide konyol melintas di benaknya, terinspirasi dari beberapa huruf acak yang ia lihat di ponselnya dan mungkin sedikit dari ekspresi *fokus* Rama. "aFz Corporation," ia berbisik pada dirinya sendiri, entah kenapa terasa pas di lidah, aneh dan sedikit tidak serius. Ia mengetikkan nama itu di layar imajiner di benaknya. "Pilihan