Halaman 1
Awal Mula Misi Rugi dan Si Kurir Malang
# Awal Mula Misi Rugi dan Si Kurir Malang Riyan, remaja 17 tahun yang baru saja lulus SMA, harusnya sedang menikmati masa-masa tanpa beban, merayakan kebebasan dari PR dan ujian. Mungkin sibuk rebahan sambil main game, atau pusing mikirin mau kuliah di mana, kerja apa, atau *gimana caranya dapetin gebetan*. Tapi takdir punya rencana lain untuknya, rencana yang sama sekali nggak masuk akal dan bikin kepalanya pening tujuh keliling. Suatu pagi, saat ia masih bergulir malas di kasur dengan mata setengah tertutup, sebuah antarmuka transparan tiba-tiba muncul di hadapannya. "Selamat datang, Riyan! Anda telah terpilih untuk menjalankan *Sistem Kehilangan Uang*." Mata Riyan langsung *melek* sempurna. Kehilangan uang? Ini lelucon apa, sih? Apakah ini jebakan *phishing* atau aplikasi konyol yang baru dia *install* tanpa sadar? Tapi panel itu begitu nyata, melayang di udara, lengkap dengan *progress bar* dan tulisan-tulisan yang seolah diukir dari cahaya. Seketika itu juga, hidup Riyan yang tadinya 'standar remaja' langsung berubah jadi 'absurd level maksimal'. ### Riyan, Si Remaja 17 Tahun yang Tiba-Tiba Punya Sistem Anti-Mainstream: Misi Rugi! Coba bayangkan. Kamu baru lulus SMA, optimis (atau setidaknya pura-pura optimis) menatap masa depan, eh, tiba-tiba dapat *challenge* hidup yang misinya *harus rugi*. Kedengarannya kayak adegan dari film komedi paling konyol, kan? Sistem Kehilangan Uang ini bukan kaleng-kaleng. Aturannya jelas, gamblang, dan sama sekali tidak bisa ditawar: Uang dari sistem *hanya boleh* dipakai untuk keperluan usaha. Titik. Nggak boleh buat beli *skin game* terbaru, nggak boleh buat nongkrong di kafe kekinian, apalagi buat beli *sneakers* impian. Yang paling bikin kepala pusing adalah poin kedua: Misi utamanya
Halaman 2
*harus rugi* supaya Riyan bisa dapat uang pribadi. Semacam, kamu harus menembak dan tidak mengenai target agar dapat hadiah utama. Aneh, bukan? Ibaratnya, semua orang berlomba-lomba untuk sukses dan untung, tapi Riyan, si anak kemarin sore ini, malah ditugaskan untuk mati-matian merugi. Kalau dia berhasil rugi, barulah sistem akan memberikan uang pribadi sejumlah kerugian yang berhasil dia ciptakan. Rugi sedikit? Dapat uang pribadi sedikit. Rugi banyak? Tentu saja uang pribadinya juga banyak. Tapi kalau *gagal rugi* alias malah untung? Nol besar! Nggak dapat sepeser pun untuk kantong pribadinya. "Seriusan nih? Aku disuruh rugi?" gumam Riyan waktu itu, merasa otaknya berputar di luar porosnya. "Bukannya orang-orang mati-matian pengen untung, ini malah kebalikannya." Sistem ini juga bekerja dalam "putaran". Putaran pertama, dia punya batas waktu tiga bulan. Semakin banyak putaran yang berhasil dilewati, alias semakin banyak modal yang dia dapat dari sistem, semakin besar pula modal uang yang akan diberikan di putaran berikutnya. Setelah setiap putaran, sistem akan menghitung rasio untung dan ruginya. Ini adalah *moment of truth* bagi Riyan. Apakah dia berhasil merugikan usahanya untuk mendapatkan uang pribadi, atau malah lagi-lagi mencetak profit yang, ironisnya, hanya membuatnya makin frustrasi? Ini benar-benar tantangan hidup yang anti-mainstream banget. ### Usaha Pertama Riyan: Niat Rugi Malah Cuan Terus, Gimana Sih? Dengan modal awal dari sistem, Riyan harus memutar otak. Ini adalah hidupnya, dan perutnya nggak bisa diajak kompromi. Dia butuh uang pribadi untuk makan, untuk segala kebutuhan dasar seorang manusia. Jadi, misi merugi ini adalah prioritas utama. Tapi, ya ampun, kenyataan memang seringkali lebih lucu dari skenario paling gila sekalipun. Riyan memulai
Halaman 3
usahanya dengan niat tulus untuk *rugi*. Mungkin dia berpikir, "Ah, gampanglah ini. Aku kan nggak ada pengalaman bisnis. Tinggal bikin keputusan salah, pasti rugi." Dia bahkan sengaja memilih ide-ide yang menurutnya 'agak meragukan' atau 'terlalu santai' agar usahanya gampang bangkrut. Tapi takdir memang punya selera humor yang tinggi. Setiap kali Riyan mencoba sedikit merusak, sedikit mengendurkan, atau sedikit membuat keputusan yang *kurang ideal*, hasilnya selalu berbalik 180 derajat. Contohnya, dia pernah mencoba mempromosikan produknya dengan cara yang menurutnya 'terlalu *absurd*', eh, malah viral dan produknya ludes dalam hitungan jam. Atau dia sengaja menetapkan harga yang 'terlalu murah' karena niatnya mau rugi, tapi malah bikin produknya diserbu dan margin keuntungannya, entah kenapa, tetap melambung tinggi. Ini bukan hanya sekali dua kali, tapi *terus-menerus*. Ibaratnya, Riyan masuk ke dalam kasino niatnya kalah judi biar bisa pulang, eh malah menang *jackpot* berkali-kali sampai disuruh keluar karena dianggap 'terlalu beruntung'. Frustrasi? Tentu saja! Dia mencoba mencari karyawan yang 'kurang berpengalaman' atau 'agak malas' dengan harapan mereka akan membuat kinerja perusahaan menurun. Tapi entah kenapa, karyawan-karyawan ini, di bawah kepemimpinan Riyan yang *terpaksa* terlihat baik hati, malah jadi super termotivasi dan inovatif. Alur cerita yang seharusnya penuh kerugian, malah jadi narasi tentang *bagaimana seorang Riyan selalu berhasil mencetak cuan*, seolah-olah dia adalah *Midas* versi modern yang sentuhannya membuat segalanya jadi emas, bukan uang pribadi, tapi keuntungan perusahaan. Hasilnya? Rasio untung dan rugi selalu berpihak pada *untung*. Walaupun kadang-kadang ada juga ruginya, tapi jumlahnya *sangat-sangat kecil*. Dan sesuai aturan