Namaku Zeto, umur 17 tahun, aku orang bodoh dari sekolah SD sampai SMA, aku juga orang yang diremehkan keluarga, teman, dan lingkungan karena aku juga bodoh dan miskin. Diumurku yang ke 17 tahun, aku belum kerja karena aku tidak diterima di perusahaan man

Namaku Zeto, umur 17 tahun, aku orang bodoh dari sekolah SD sampai SMA, aku juga orang yang diremehkan keluarga, teman, dan lingkungan karena aku juga bodoh dan miskin. Diumurku yang ke 17 tahun, aku belum kerja karena aku tidak diterima di perusahaan man

Created by Muhammad Syafiq Alfariyansyah
Halaman 1
Sang Pecundang yang Terabaikan

Ia bernama Zeto, seorang anak lelaki yang, di usianya yang baru menginjak tujuh belas tahun, telah merasakan pahitnya hidup jauh lebih awal dari kebanyakan teman sebayanya. Setiap pagi, ketika mentari menyapa dunia dengan janji-janji baru, Zeto justru terbangun dengan beban yang sama: perasaan *bodoh*, *miskin*, dan *terabaikan*. Sejak bangku sekolah dasar hingga seragam putih abu-abu SMA ia kenakan, cap "bodoh" melekat erat padanya, seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari namanya. Lingkungan sekelilingnya pun tak pernah luput melontarkan cibiran. Keluarganya sendiri seringkali memandang rendah, teman-teman menjauh, dan setiap pintu pekerjaan yang ia coba ketuk selalu tertutup rapat. Rasanya seperti ia berdiri di tengah padang pasir luas, sementara orang lain telah menemukan oasis mereka masing-masing, berlari mengejar impian dengan langkah pasti. Zeto? Ia hanya di situ-situ saja, terperangkap dalam keputusasaan yang melumpuhkan, menyaksikan parade kesuksesan dari kejauhan dengan hati yang hancur. Sebuah kesedihan yang menusuk, frustrasi yang membakar, adalah teman setianya di setiap hembusan napas. ### Sang Pecundang yang Berontak: Ketika Takdir Ditulis Ulang dengan Darah Di tengah kegelapan yang membalut jiwanya, sebuah kejadian aneh nan magis tiba-tiba mengoyak rutinitas Zeto. Layar ponsel usangnya berkedip, menampilkan sebuah ikon misterius yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Kemudian, dalam sekejap mata yang membingungkan, ikon itu menjelma menjadi sebuah buku fisik yang nyata, tergeletak di sampingnya. *Buku Kematian*, demikianlah judulnya, terukir dengan huruf-huruf kuno yang seolah berdenyut dengan energi gelap. Aturannya mengerikan, sekaligus menggoda. Cukup menuliskan nama seseorang di dalamnya, dan orang itu akan mati
Halaman 2
tanpa sebab, seolah ditelan bumi. Buku itu juga memiliki kekuatan untuk menenun takdir, menambahkan detail peristiwa penyebab kematian seseorang hingga lima jam sebelum ajalnya tiba. Namun, untuk menjadi pemilik sejati, ada satu syarat yang menuntut: darah. Sebuah torehan luka kecil untuk menyegel kepemilikan. Meskipun di sekolah Zeto sering dicap bodoh, ada satu arena di mana otaknya bekerja dengan cemerlang: dunia anime. Dari sana, ia belajar tentang strategi licik, kreativitas tanpa batas, dan keberanian untuk menentang takdir. Pengalaman itu, anehnya, justru memicu nyali dalam dirinya. Sebuah bisikan di sudut hatinya mendorong, "Ini kesempatanmu, Zeto." Dengan tangan gemetar, namun dengan tekad yang membara, ia menggoreskan sedikit luka di telapak tangannya, membiarkan setetes darah menetes ke halaman pertama buku tersebut. Pada saat itu juga, sebuah energi dingin mengalir melalui nadinya, seolah gerbang dimensi lain terbuka. Tiba-tiba, tanpa aba-aba, Buku Kematian itu bukan hanya memberinya kekuatan untuk mengambil nyawa, melainkan juga menghujani Zeto dengan serangkaian keterampilan yang luar biasa: ia menjelma menjadi *master bela diri*, *master programmer*, *master elektronik*, dan *master kimia*. Seorang pecundang yang diremehkan kini memiliki senjata paling mematikan dan otak paling brilian. Ini bukan lagi sekadar kebetulan; ini adalah takdir yang ditulis ulang, dengan tinta darah Zeto sendiri. ### Singgasana Kegelapan: Transformasi Zeto Menjadi Zero, Raja Keadilan yang Terkutuk Perubahan itu bagaikan badai yang menyapu bersih Zeto yang lama. Dari pemuda canggung dan murung, ia bertransformasi menjadi sosok yang nyaris tak bisa dikenali. Penampilannya berubah drastis: setelan jas rapi membalut tubuhnya, wajahnya kini dihiasi tato bergaya Yakuza di bagian
Halaman 3
leher, dan rambutnya tertata apik, memberikan aura misterius yang tak terbantahkan. Ia tampak lebih seperti seorang *mafia* yang baru saja melangkah keluar dari bayang-bayang kegelapan. Hatinya pun ikut gelap, terselimuti ambisi yang membara. Dengan kekuatan baru yang dimilikinya, Zeto mulai membangun kerajaan yang mengerikan, sebuah imperium yang tak hanya kaya raya, tetapi juga menakutkan. Rasa kemanusiaan yang dulu mungkin pernah ada, kini terkikis habis. Ia tak segan-segan membunuh orang-orang yang dulu pernah menjadi temannya, bahkan keluarganya sendiri, jika mereka menghalangi jalannya atau sekadar menjadi beban. Awalnya, Zeto menguji kekuatan barunya pada penjahat-penjahat kecil, membersihkan "sampah" masyarakat dengan caranya sendiri. Lama-kelamaan, ia mulai menganggap dirinya sebagai entitas yang lebih besar, sebuah simbol. Di ranah daring, ia menciptakan identitas anonim yang tak terlacak, sebuah persona yang tak terjamah oleh siapapun. Ia menamai dirinya *Zero*. Sejak saat itu, dunia mulai mengenalnya sebagai Zero, sosok misterius yang tak pernah bisa diidentifikasi, seorang bayangan yang bergerak di antara dunia keadilan dan kegelapan. Identitas aslinya, Zeto, harus terkubur dalam-dalam, sebuah rahasia yang tak boleh terungkap pada siapapun. ### Prahara Identitas: Jebakan Takdir dan Hukuman Atas Ambisi yang Membakar Ambisi Zero tumbuh semakin menggila dari hari ke hari. Ia tak hanya puas dengan menyingkirkan penjahat kecil; ia ingin menjadi *Raja Keadilan* sejati, pengendali utama takdir dunia. Dengan kecerdasan dan kekuatannya, ia mulai memanipulasi dan mengendalikan negara-negara, membangun jaringan bawahan yang tersebar di perwakilan negara, militer, bahkan detektif. Dunia perlahan-lahan menari mengikuti irama yang Zero ciptakan. Namun, setiap raja
Kembali ke daftar buku