Halaman 1
Kemuraman Zeto: Di Bawah Bayang-Bayang Remahan Harga Diri
# Kemuraman Zeto: Di Bawah Bayang-Bayang Remahan Harga Diri Zeto, pada usianya yang menginjak angka tujuh belas, merasakan beban yang terasa jauh lebih tua dari itu. Tujuh belas tahun. Sebuah usia di mana kebanyakan teman sebayanya sedang sibuk merajut mimpi, merencanakan masa depan, atau setidaknya, sedang merayakan kebebasan masa muda mereka. Zeto? Ia hanya merasa terjebak, terperangkap dalam lumpur kemuraman yang ditarik oleh cengkeraman rasa inferioritas. Hidupnya, bagi Zeto, seperti rekaman yang terus-menerus diputar ulang di satu *track* yang sama, tanpa pernah menemukan melodi baru. Ia memandang keluar jendela kamarnya yang sempit, membiarkan pandangannya mengembara ke arah cakrawala yang dihiasi gedung-gedung tinggi. Di sana, di luar sana, orang-orang sibuk dengan langkah kaki cepat, seolah tahu persis ke mana arah tujuan mereka. Apa yang mereka cari? Sukses? Kebahagiaan? Zeto tak tahu. Yang ia tahu, keberadaannya di dalam ruangan ini terasa begitu kontras, begitu hampa, dibandingkan gemuruh kehidupan di luar sana. Sebuah bisikan getir sering menyapanya, "Apakah memang begini caraku menjalani hidup? Terkurung dalam bayang-bayang, menjadi saksi bisu kesuksesan orang lain?" ### Ketika Dunia Hanya Melihat Coretan Merah di Raport Sejak Zeto masih memakai seragam merah putih, sekolah adalah medan perang yang tak pernah ia menangkan. Bukan karena ia tak berusaha, oh, ia berusaha. Otaknya seakan punya filter aneh yang menolak menyerap rumus-rumus matematika atau teori sejarah yang rumit. Angka-angka merah di rapor adalah saksi bisu, coretan-coretan tajam yang tak hanya menghiasi lembaran kertas, tapi juga mengikis sedikit demi sedikit harga dirinya. Para guru, dengan segala kesabaran yang terbatas, pada
Halaman 2
akhirnya hanya menggelengkan kepala. Orang tua, yang tentu saja mengharapkan yang terbaik, seringkali menatapnya dengan pandangan penuh kekecewaan. Bukan amarah, melainkan kepedihan yang lebih dalam, seolah melihat harapan mereka perlahan-lahan pupus di mata sang anak. Perbandingan dengan sepupu yang cerdas atau anak tetangga yang selalu juara kelas menjadi santapan sehari-hari. "Lihatlah si Budi, dia sudah diterima di universitas ternama," atau "Kenapa kamu tidak bisa seperti Kakakmu yang selalu masuk tiga besar?" Kalimat-kalimat itu, meski mungkin diucapkan tanpa maksud buruk, menusuk jauh ke dalam hati Zeto, mengukuhkan keyakinan bahwa ia memang *bodoh*. Bukan hanya di rumah, di sekolah pun ia kerap menjadi bahan candaan, objek ejekan ringan yang terasa seperti pukulan keras. Teman-teman, dalam keluguan remaja mereka, seringkali tanpa sadar memperlakukannya berbeda. "Ah, Zeto kan *nggak ngerti* kalau diajarin," atau "Tanya yang lain saja, nanti Zeto malah bingung." Pelabelan itu, "si bodoh," menjadi identitas yang melekat erat, seperti tato yang tak bisa dihapus. Ia melihat dirinya sendiri melalui lensa yang diberikan oleh dunia, dan lensa itu hanya menunjukkan citra yang buram, tidak kompeten, dan tanpa masa depan. Bagaimana rasanya menjadi remaja 17 tahun yang merasa otaknya tak berfungsi? Seperti berjalan di labirin yang gelap, sementara semua orang di sekitar Anda memiliki peta. Setiap pintu yang Zeto coba buka, setiap jalan yang ia coba lewati, selalu berakhir buntu, diiringi bisikan-bisikan dari masa lalu yang meracuni: "Kamu bodoh, kamu tidak akan pernah bisa." ### Bayangan Zeto di Antara Kilau Sukses Orang Lain Pada usia 17, seharusnya Zeto bersemangat mengejar cita-cita. Namun, realitasnya, ia hanya mengejar lowongan pekerjaan yang tak pernah berujung pada
Halaman 3
penerimaan. Setiap perusahaan, setiap tempat yang ia lamar, selalu memberinya respons yang sama, entah penolakan halus atau, yang lebih menyakitkan, keheningan tanpa kabar. Ia tahu alasannya. Pendidikan yang pas-pasan, pengalaman nol, dan rasa tidak percaya diri yang terpancar jelas dari setiap gerak-geriknya. Seolah ditakdirkan untuk selalu melihat, bukan merasakan. Zeto menyaksikan teman-temannya mulai menemukan jalan masing-masing. Ada yang sudah diterima kuliah di jurusan impian, ada yang merintis usaha kecil-kecilan, bahkan ada yang sudah bekerja paruh waktu dan bisa membeli barang-barang yang selama ini hanya ia impikan. Mereka, dengan tawa renyah dan pandangan optimis, melangkah maju. Sementara Zeto? Ia merasa seperti patung beku di tengah parade kehidupan yang terus bergerak. Setiap unggahan di media sosial yang menunjukkan pencapaian mereka, setiap cerita sukses yang ia dengar, terasa seperti jarum-jarum kecil yang menusuk ulu hatinya. Bukan iri hati, melainkan kesedihan yang mendalam, rasa frustrasi yang menggerogoti. Apakah dunia ini memang dirancang untuk orang-orang seperti dia? Orang yang *biasa-biasa saja*, atau bahkan di bawah standar, untuk sekadar menjadi penonton? Frustrasi itu seringkali berujung pada malam-malam tanpa tidur, di mana ia menatap langit-langit kamarnya dan bertanya pada diri sendiri, "Apa salahku? Kenapa hidupku terasa begitu stagnan, begitu monoton, di saat semua orang berlari menuju tujuan mereka?" Sebuah jurang dalam terasa menganga di hadapannya, dipenuhi oleh keputusasaan dan rasa tidak berdaya. Ia merasa terjebak di dasar sumur, sementara di atas sana, cahaya mentari terus menyinari mereka yang beruntung, mereka yang menemukan tangga menuju puncaknya. ### Bisikan Kreativitas di Sudut Jiwa yang Tersingkir Namun, di balik semua